Sunday, November 11, 2012

Telur Asin Majalengka Belum Dikenal

MAJALENGKA, (PRLM).- Selama ini telur asin dikenal berasal dari Brebes atau Indramayu, karena di kedua wilayah tersebut terdapat banyak outlet yang menyediakan telur asin. Telur asin buatan Majalengka meski rasanya lebih baik dan enak belum banyak dikenal masyarakat luar bahkan di Majalengkanya sendiri.
Di Kabupaten Majalengka ini ada lebih dari 300 produsen telur asin yang rasa dan proses pembuatannya berbeda. Salah satunya adalah telur asin garang produksi Yoyoh (31) warga Desa Rajagaluh Kidul, Kecamatan Rajagaluh, tepatnya tidak jauhd ari Pasar Rajagaluh.
Telur asin garang yang diproduksi Yoyoh ini mungkin satu-satunya di Majalengka. Rasa telur asin ini sedikit kenyal, tidak berair, warnanya agak kusam berbeda dengan teluir asin rebus. Namun telur ini rasanya lebih khas dan mudah mengelupas ketika dibuka. Tanpa harus menggunakan sendok atau alat lain untuk membukanya.
Yoyoh memproduksi tiga rasa telur asin, pertama telur asin garang biasa, telur asin rasa sup dan telur asin rasa pedas. Yang membedakan rasa telur asin tersebut adalah ketika proses pembuatannya. Telur asin ras sup ketika proses pembuatan abu dan air rendaman telur selain dibubuhi garam juga dibubuhi merica dan bawang putih, sedangkan rasa pedas air rendaman dibubuhi cabe sehingga ketika matang dan dimakan rasanya sedikit pedas.
Untuk memperkuat rasa, rendaman telur asin menurut Yoyoh mencapai 10 hingga 12 hari sedangkan menggarangnya mencapai 3 jaman. Bila tidak maka rasanya akan sama dengan telur asin biasa.
Dan itu pula yang membuat harga telur asin buaya Yoyoh lebih mahal dari harga telur asin di pasaran pada umumnya yang harganya hanya Rp 2.000,- hingga Rp 2.500,-/butir. Sementara telur asin garang produksi Yoyoh harganya Rp 3 ribu/butir.
“Telur ini memang lebih mahal dari telur asin lain, karena prosesnya perendamannya lama, bumbunya beda serta waktu memasakpun beda kalau dikukus kan cukup waktu setengah jam sementara dengan di garang waktunya bisa mencapai 3 jam. Jadi penggunaan bahan bakar gas juga lebih banyak,” ungkap Yoyoh.
Pemasaran telur asin garang ini masih terbatas di beberapa warung nasi, karena produksinyapun baru sebanyak 1.500 butir/minggu. Ini menurut Yoyoh karena terkendala modal dan bahan baku akibat mudim kemarau.
“Pemasarannya di Kota Majalengka baru tiga rumah makan itu diantaranya di kantin yang berada di Lingkungan Perkantoran Setda dan rumah makan lengko di Jl Kartini, lainnya belum. Kita belum bisa memasarkan,” kata Yoyoh.
Untuk memproduksi lebih banyak menurutnya butuh modal yang cukup sementara modal yang dimilikinya masih terbatas, sehingga belum berani mengembangkan.
Kepala Bidang Perindustrian di Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koprasi H.Asep Iwan Haryawan membenarkan adanya produsen telur asin garang. Menurutnya banyak produsen telur asin yang rasanya sama dan bahkan lebih baik di banding produk Brebes. Yang membedakan di Majalengka belum banyak dikenal sedangkan di Brebes dan Indramayu telah lebih dulu dikenal.
Produksi telur mendathnya sediri di Majalengka cukup banyak karena ada peternak bebek yang cukup besar, Duki yang kini menjabat sebagai Kuwu Desa Karikolot, Kecamatan. Setiap hari dia mampu memproduksi 1200 hingga 1300 telur. Selama ini pemasarannya selain di Majalengka juga diambil oleh pengusaha telur asin di Jawa Tengah.
Beberapa produsen telur asin di Majalengka sendiri menurutnya sudah berupaya di pasilitasi kesana hanya persoalannya pengambilan telur tersebut tidak kontinu, karena pada saat musim panen produsen telur asin mengambil telur gembalaan karena harganya murah sedangkan Duki sendiri butuh stabilitas harga dan pengambilan.
Sementara persoalan modal yang dikeluhkan produsen telur asin, pihak pemerintah berupaya mengintervensi lewat pemberian rekomendasi ke bank. Dan bank yang akan memberikan pinjaman lunak bagi para pengusaha. (C-28/A-26).***

No comments:

Post a Comment